Monday, 15 September 2014

Potong Aku Kecil-kecil

hamba di antara hamba
bersahaja sahaya di antara mereka
bungkam, diam, diamlah aku yang dipaksakan,
terkulai kerontang mereka dan aku dipenjara

mimpi berkibar, terinjak diludahi
terungkap raga-raga di ujung lidah belatung
sekejap tak sigap dipatuk gagak
terperangkap tidak bergerak di bawah telapak kaki tuan

penjarakan aku, rantai tubuhku dalam lingkaran setan
bungkam mulutku butakan mataku
sumpal telingaku tebaslah setiap kaki-kaki tanganku
dan aku tertawa dalam gelapnya bayangan yang tak mampu tuan lampaui

fikiranku bebas sebebas aku berfikir
kapan juga itu, tuan
aku adalah fikiranku

Sunday, 14 September 2014

Selimut Bocah Jalanan

Langkah-langkah pelan di persimpangan malam

Seorang bocah nanar tidak memandang
memeluk tubuh yang hanya ia punya
lusuh seluruh tubuhnya

Dalam erat genggamannya bocah jalanan
sehelai selendang lusuh dikibarkan angin malam
Merah Putih itu menjaga warnanya.

Dunia Pura-pura

Pesona dunia adalah warna tak terbaca
wajah tak berdosa berkelana dengan aura tanpa cela
senyum tawanya menyapa menggoda
pada siapa harus percaya?

Mencari Masa Lalu

Di satu persimpangan penuntun gamang

Seribu penderma gagaskan, kuterima satu yang bisa mendengar
seribu baris basis aktivis, kucari satu iblis termanis

Satu tonggak sejarah
bangkit berdiri berlari mencari masa depan

Aku melangkah mundur, mencari masa lalu
lalu sembnyi di balik kisah
bersamamu, alam!

Saturday, 13 September 2014

Saudara Gazaku

Senjaku berkabut pilu
gerimis itu cerminan risau hati ingin mengeluh
adalah aku di negeri frustrasi

temanku tidak di sini
negeriku tidak berfungsi
gernerasiku generasi perumus teori

saudaraku di sana
berdiri tegak di antara hidup dan mati.

Semakin Gelap

Rebah di celah resah
senjaku bernjak, aku semakin gelisah

terkulai di sela waktu yang gagah
berharap senjaku di sini tetap

senjaku menyapa, tersenyum terlampaui rela
malam mendekat, langitku semakin gelap.

Larut

Larut setetes resah di kabut malam larut
sebait cerita lama diludahi sunyi dan bunyi
tentang rindu yang membawa
tentang rasa yang menjaga

Penantang Malam

Pagi tidak bertepi, ada yang menari di puncak hari
senja menghadang malam, malam semakin kelam
jejak tidak beranjak, tetap di pagi tanpa mentari

wajah-wajah bocah tegar mencari arah
pasrah tidak menyerah
mengaum dalam sajak jalanan
menantang malam dengan segenggam tangan kosong

Di Pengasingan

Terbuang di seberang malam
terasingkan dari bayangan
bertahan merajai nyali, menari dan bernyanyi aku sembunyi
bersajak tentang bulan yang padam

Di pengasingan malam merajai mimpi
tentang peri pelukis pelangi
tentang ngarai di negeri penyair
tentang kita berdua di sana

Friday, 12 September 2014

Mimpi Di Jari Kaki

Hari-hari menunda lapar
hari-hari menanti mati

warna kusamnya zaman semakin enggan tergambarkan
ketika harapan datang menghilang
mimpi-mimpi terasa manis di sela-sela jari kaki


Peragaan Jalang

di atas ranjang memajang diri
di sepanjang zaman yang sama
selalu sama di ranjang ini

di atas ranjang dicumbu bayangan
setiap angan menggoda ditiduri
menanti diludahi waktu

di atas ranjang dengan kesendirian
akan selalu sendiri mencintai
cinta yang ganjil pada bayangan diri

Sekali Lagi

Aku diam, bicaralah
aku bungkam, cobalah lebih lantang
kututup mata, agar kau melihat
kemenahan nafas, hiruplah udara

Aku di sini, bernyanyilah
aku sembunyi, jangan ragu, menarilah
aku hidup lagi, cobalah melawan mati
aku mencintai, semoga di sini tidak ada benci

Thursday, 11 September 2014

Sunyinya Suci

Niat yang hanya dia yang tahu
Tuhanku, yang oleh-Nya dikehendaki

Suci,
mengikat hidup, atas nama Tuhan
tapi terikat dengan dunia

terikat, dan terikat
jagad begitu sesak
terisak dan terjebak lagi
begitu, Suci

terperangkap dua jagad
sama terasa gelap
dunia menggeliat
Suci membekap diri

diam, bungkam, hilang, tenggelam,
Suci menghilang
tinggalkan suci yang malang.

Wednesday, 10 September 2014

Masih Hari Ini

Bintang terang berpijar di pagi yang remang
Warna pelangi larut dalam setiap tetes hujan turun
Pagi adalah harapan tentang malam yang belum usai

Jelita Sial(an)

Terkapar tubuhnya tidak bertuan
Teredam gumamnya di jalanan tidak bertujuan
Tersimpan kepedihan, kisah usang para biduan ingin pulang.

Pantai

Pantai di tepi angan
gemerciknya berbutir keringat
pasir dan butir kerikil adalah cadas termungil yang terukir dan mengalir.

Air Mata Ibu Kota.

Pada telapak yang tenggelam
melangkah mengapungkan hidup,

Pada senja yang tenggelam
berkibar harapan di kaki langit,

Pada Tuhan, semoga mereka berserah.

Khayal Tersesat

Kecut, pekat
segala rasa terberat
menyeruak,
terperangkap di pangkal kerongkongan.

gerak tertinggal hanya fikiran
penuh harap, semoga terlelap.

Bibirmu Terasa Pahit

Bibirmu terasa pahit malam ini
saat mimpi memperjelas kenyataan yang sejati
pahit,
mungkin keringat ataukah darah?

Ini gerlya aku mencintaimu
di sini, kulminasi malam ini
tertindih angin tak mampu aku mendesah lagi

Semakin dekat
kematian mengikat erat
tak mampu kita beranak-pinak.

Tuesday, 9 September 2014

Menolak Mati

Pagi menghakimi
Mimpi mengadili realita
Kerikil adalah butir udara pagi
Pasir menjadi cadas
Embun jadi ombak

Mati adalah pasti
para peri mengucilkan diri dari mentari
ingin dibunuh, aku menawarkan diri
menolak mati.

Seperti Wayang

Aku bujang
di antara seribu perawan penantang zaman

Malamku semakin kelam
di antara setiap angan yang tenggelam

Aku tergenang
di antara separuh kenangan yang kutorehkan

Bersemayan, aku
hidup di antara satu hingga jutaan kata dan kalimat.

Aku Sekarat

Keramahan cinta menyapa malam tanpa angin
Udara hanya nafas
Kita berbagi hela dan desah
Peluh tanpa ada keluh kita melenguh
Semakin erat dekapmu
Pacu waktu memburu dalam nafsu
Aku sekarat.

Masih, berbagi nafas kita dalam gerak dan upaya
di atas tubuhmu aku terbujur semakin lemah
Mati dalam cinta yang dingin ini.

Friday, 5 September 2014

Untuk Siapa Lagi?

Kita pulang lewat udara
Menuju rumah dan perang terakhir
Perang melawan Republik
Perang melawan musuh dan musuhnya para musuh
Perang melawan perihku kehilangan banyak orang

Menjelang di ramahnya kemenangan
Dadamu berlubang tertembus berdarah

Kumenangkan hati setiap orang, demi mimpi semua orang
Untukmu, untuk kita yang tersisa
Untuk sepetak tanah tempatmu berpulang

Teman Patriotku!

(masih di September 2014)

Monday, 1 September 2014

Langkah Angguran

Terkuak setengah tertutup
terbuka celah terkatup-katup

adalah waktu melintang di atas ruang bujur
rintik terik menggelitik langit di puncak hari
gerimis adalah risau perusuh jiwa-jiwa lusuh.

Ruang Kotak-kotak

Atap-atap bersayap memberi batas
tak kuasa sinar merayap

Pagiku,
adalah ruang yang dibatasi cahaya
gelap dan terang

Dari Gelap

Sepantaran usia tua tersisa sia-sia
angsa merajut masa dari setiap sayap terkepak
burung-burung terbang pulang
ada yang berkubang di kaki malam

gelap langit
menggelap dunia
bilah bumi ini hilang warna-warni
tersisa jingga yang buram

kelabu menunggu
semoga malam tidak kelam.

Sebait Kebodohan

Ini akan sulit untukmu

sebait-sebait pahit
semakin pahit detik yang berderit
senyum setawar keringat kecut

semanis empedu mengaduk masa
sedetik lagi padu bersama waktu

duduk dan bangkit di hadapan
sebagai pesakit

bait-bait berderit
terteguk seteguk lagi
bait memaksa jerit

tawa kebodohan.

Tarian malam

Senandung jiwa-jiwa murung
terkurung dalam nada yang mengapung
membumbung tinggi tenggelam lagi
seorang lagi hidup dan mati

Senandung jiwa-jiwa yang pergi
bersenandung untuk jasad tanpa gerak.

Batas-batas

Geraimu ingin kuhitung dari setiap helai rambutmu yang terurai
Melupa akan segala sikap
Aku tak peduli;
jika saja cara berfikir melampaui angka usia.

Mati Pagi

Setangkai nyawa berguguran
setiap hari pagi
setiap burung mencabut bulunya
setelah sinar redup
bergemuruh langit keruh
berderit setiap hidup yang berjinjit berusaha kuasai jerit
tersibak subuh dari setiap wajah yang terbasuh
bersimpuh aku, mati di hadapanmu!

Garuda

Putra sang zaman
tumbuh di antara semak dan ilalang

Bayi pertiwi
penentang tirani

Pemuda
Pelita masa depan