Sunday, 31 August 2014

Terbuai Ajal

Seanggun badai menyapu negeri yang tergadai

kepada perang yang tak pernah tersulut
kepada setan dan hantu masa lalu
genderangnya berbisik syahdu
setiap jiwa terpanggil tanpa sadar
bukan perang
rakyat yang tertikam

Seindah badai meniup kapal yang terbuai

kepada siapa rakyat harus percaya
yang terlihat sama tidak terdengar
mungkin ilusi
tapi perlahan pasti, mati!

Sesaat

Kita berteduh di peperangan yang kelelahan
Mungkin hanya untuk sementara kita menghirup udara tanpa debu
Mendengar suara malam tanpa denting pedang dan jerit kematian
Setelah para raja selesai bercumbu dengan selirnya
Setelah prajurit selesai dengan rampasannya
Kita akan mati dalam perang ini.

(lagi)

Terlampaui jauh melapas diri
menukik
terjun bebas dari udara yang pernah mendekap
dari angan yang pernah aku melayang bersamanya

Ah,
siang ini aku harus menatap mentari dari dasar bumi
(lagi).

Larat Demokrat

Malam ini
ada hati yang remuk membiru

hati yang memburu
cemburu teramat dalam

mendasar
sedalam kedalaman melubangi bumi

hatiku dan hati lain yang ditinggalkan
aku dan 259 juta manusia tertinggal di negeri yang ditinggalkan

rajaku terbang bersama burung biru patah sayap

Dengan Kata

Kami berduka
Kami melawan lupa
Kami yang dipenjara
Kami tetap bicara

Mereka terlena
Aku berkelana
Bangsa digenggam mereka
Gerilya, aku bicara untuk merdeka

Kata untuk kita!

Pesan


Separuh jalan pulang tergenang
Tenggelam aku dalam darahku, Sayang!

Tegaklah berjalan jangan ke belakang
Semampu, aku berpesan

Sampaikan berita  kematian (kemenangan) pada penerus tekad juang!

Ingat Mereka!

Percaya saja pada luka mereka
pada setiap duka tertersajak dalam dada
rindu mereka bukanlah menang
bukan pembenaran bukan kehidupan
keikhlasan adalah nyawa perjuangan suci

Kelana melawan lupa
Kelana ini di antara kenangan

Berjalan tenggelam

Siapa iblis bisu di pagi itu?
Ketika embun mengering dalam tetes hujan tanpa warna
Ketika keyakinan tergantikan dengan warna-warna
Ketika cinta terjejali harga dan angka
Hari sepagi ini tergenang lumpur beku
Semoga negeriku tidak tenggelam dalam darah dari nadi mereka!

Bisa Apa?

Dingin, lembut seperti dibelai
Terbuai, terkulai, seperti mati
Tanpa gerak
Tapi hidup
Tersenyum
Menjawab
Menatap
Tanpa guna
Sia-sia
Terdiam
Bereaksi
Kadang menggeliat
Tapi tidak menikmati
Terus hidup dan mati
Di negeri yang dipelacuri

Friday, 22 August 2014

Jangan Sekarang, Gagak!

Aku melukis dengan kata dan darah yang tersisa
Kehidupan ini tergambarkan dari setiap sudut yang menjadi simpul rasa
Menjelaskan diamku meredam haus meneguk darah dengan menggigit pangkal lidah
Aku bicara dengan diam pada gagak penunggu bangkai
Aku bergerak mengusap kanvas mencmbu tubuh dalam lukisan
Sang gagak bergerak mengais mangsa, akulah sang mangsa kini jadi bangkai.

Ayo Kemari!

Tinggallah satu malam lagi
kita bercerita hingga pagi
tentang negeri
tentang seni
juga tentang hati

Tetaplah di sini
kita berbagi rasa dan mimpi
untuk negeri
dengan seni
dan dari hati

Mari mendekat lagi
malam ini kita mencintai.

Penyair Tanpa Mata

Jika saja aku dilupakan
aku 'kan hidup dalam seribu bayangan
melihat di dalam gelap
meraba yang terlihat

Jika saja aku melintasi malam
segala beda tidak dimiliki pagi siang dan petang
setapak demi setapak kembali pada gelap
setapak lagi mungkin mati

Jika saja aku terkubur mati
sisa dunia tidak juga terang
sekelam mata tanpa sinarnya
hitan tampa bola mata

Jika esok pagi menghampiri
mimpi akan indah lagi
di tempat ini dalam seribu kehidupan
seribu warna di garis pelangi.

Tuesday, 19 August 2014

Revolusi: Semangat biru

Ah,
semangat itu teramat terganggu,
seperti si bisu aku termangu.

Ah,
lagi-lagi aku tersipu,
pada rasa yang mengebu,
menggugah kalbu.

Suaranya yang terus menderu,
menggelitik,
aku dipaksa maju.

Ah,
aku dipaksa maju,
ah, aku malu,
pada diri di mana aku terpaku,
berbincang dengan sang aku,
belum juga aku berpacu,
ah, percuma saja.

Aku percuma!

Dirgahayu

Berdesak
Deru bergemuruh di ruang sempit
Paru
Di dalam dada
Gejolak
Gelora asmara cinta akan bangsa

Seperti terkurung seribu tahun
Seperti terbuang di tanah kering
Retak
Tanpa warna
Seperti tergiur
Seperti tergoda
Seperti terlupa akan dosa
Seperti pelacur sedang memaksa

Seperti itu
Bangsa akan kubela!